Tentang Menulis

Thursday, 22 Jan 2026
writings thought

Atashi Saiseisan

Dalam tiga bulan terakhir, ada tiga orang yang bertanya tentang tulisanku: 1) kapan nulis, 2) kapan nulis lagi, dan 3) kapan terakhir nulis secara serius. Karena aku percaya takhayul bahwa angka tiga (3) adalah angka ajaib, aku harus berbuat sesuatu. Masalahnya aku payah nulis. Aku lebih banyak memikirkan penulisan daripada benar-benar menulis, kayak orang neurotik. Tetapi kemarin aku kepikiran, bagaimana kalau aku melakukan hal licik, menulis sedikit saja tentang penulisan yang selama ini menahanku (mindblown)?

Penghalang terbesarku adalah rasa malu. Ungkapan simpel dengan lingo internetnya seperti ini: “cringe jir”. Aku malu sekali menulis, bahkan ketika baru membuka editor teks (handwriting is so 20th century), karena setelah aku mengetik huruf pertama, aku sudah membuat panggung. Rasanya setiap kata yang kutulis, satu sentimeter dari diriku ditelanjangi. Semakin banyak kata yang muncul, semakin buas penonton.

Kepercayaanku adalah setiap tulisan punya pembaca sasaran. Ya, kalau tulisannya adalah tulisan “biasa” seperti komoditi, ini wajar. Pembaca sasaran harus ada supaya nanti menjadi pembaca sungguhan. Tetapi jika sebuah tragedi terkejam datang di mana pembaca sungguhan ini tidak datang dalam bentuk gumpalan daging yang dapat berbicara (tidak ada yang beli buku, tidak ada yang buka blog, no upcummie, etc.), pembaca sasaran tetap ada. Makanya, ketika aku hanya menulis jurnal atau catatan acak di tisu-tisu yang kucuri dari warmindo terdekat, aku tetap merasa ditonton, bukan seperti salah satu dari gadis Prancismu itu, namun seperti narapidana.

Dulu pernah ada mas-mas pujangga komersial. Dia menceramahi selusin maba baru. “Kulihat kalian lebih banyak curhat, ya. Coba sekali-kali datangkan memori dari benda di sekitar. Misalnya tulislah tentang pohon itu, yang pasti punya memori dari sejak dia masih tunas sampai jadi besar seperti saat ini,” katanya. Aku tidak tahu dua hal: apakah pohon itu pernah berada di fase tunas (for I know not botany), dan apakah tiga kalimat mas-mas hipster itu adalah bagian dari sajak yang sedang dia masak untuk dijual. Maksud dia bisa dibuat sederhana. Kalau nulis puisi, gunakan narator lain; prosa non-fiksi, pasang jarak dengan objek. Mungkin menulis secara “objektif” ini adalah salah satu cara untuk mengurangi rasa malu. Di saat yang sama, ini menyinggung penghalang keduaku. Aku gak bisa nulis secara “objektif” à la academia (atau pengarang es*i) epic style xd.

Boleh lah, ketika aku menulis puisi atau prosa fiksi, kucoba mendatangkan narator yang sedikit agak lumayan lucu, entah pada akhirnya dituduh self-insert atau tidak (padahal naratornya terinspirasi dari si penuduh). Ketika menulis seperti saat ini, hanya memoar yang bisa keluar dari jari-jariku. Padahal seperti orang-orang lain di internet, aku juga ingin yapping tentang tren dan berita terbaru, mengungkapkan kesetujuan atau ketaksetujuanku. Jika ditulis dengan “““objektif”””, tampaknya keren. Tetapi, bahasaku terbatas. Aku tidak bisa menggunakannya secara maksimal untuk membuat berjilid-jilid primbon, untuk berartikulasi. Yang keluar dari ketikanku hanyalah efek dari pikiran dangkal, tersesat dan kebetulan nyangkut di tata kalimat. Jadi, aku menulis seperti turis religi yang datang ke Ganjuran untuk (berpura-pura) mengakui dosa, namun (semoga) tidak seperti Humbert yang for the lols menceritakan mimpi-mimpi palsu ke dokter jiwanya.

Ujungnya tulisannya juga hanya akan kulempar ke internet, yang kadang tidak enak. Meski sudah sopan dan bersih hati, ada-ada saja avatar K-On! sebesar 64 piksel yang muncul dengan bad faith. Sebenarnya, menulis satu kata berisi dua huruf seperti “gw” di kolom komentar teman atau “my” di caption-pun menakutkan. Isinya sedikit. Ia mudah menimbulkan kesalahpahaman. Mending meneng wae, baca sebelum tulis dan lurk sebelum post.

Diam saja itu harus dalam keadaan sadar. Di keadaan normal dan damai, mana mungkin aku bisa teringat maksim “meneng wae”. Ketika main catur, ya main catur, bukannya malah teringat mumbo jumbo aturannya (kecuali kalau Elo tinggi, I guess. Jikapun tinggi sepertinya sulit bagi pemain untuk menempati titik yang sama dengan pengamat). Ketika berbicara atau memikirkan kalimat untuk diketik, ya bicara atau ngetik, bukannya malah terbayangi sintaksis, SPOK-nya apa di momen spesifik itu juga. Saat maksim “meneng wae” tidak hadir … .

Ya, itu tadi istirahat Magrib.

Semakin self-conscious, semakin berantakan. Saat ini aku hanya bisa menulis serpihan seperti memoar minim editan. Berbicara tentang memoar, bagaimana jika ada pengarang di luar sana yang mengaku menulis memoar, tetapi asilnya dia menulis fiksi? wDisclaimer_, pernyataan, atau kondisi tertulis lain di mana dia bilang kalau itu raw-private adalah bagian dari fiksi itu sendiri. Pengarang ini patut untuk dibawa ke Den Haag (secara simbolis kalau dia sudah wafat), di mana beberapa pemimpin dunia saat ini harusnya berada.

39 4 reading my blog post.


left arrow icon To blog upwards arrow icon To top